Promosi Baju Koko

Promosi Baju Koko

Menjelang bulan suci Ramadhan, sudah banyak pedagang yang bersiap-siap menyambutnya dengan berbagai macam promo dan program. Salah satu ciri yang paling dapat ditengarai adalah munculnya iklan sirup di layar kaca. Jika iklan sirup sudah menghiasi layar kaca Indonesia, maka sudah dipastikan beberapa minggu atau hari sesudahnnya pasti bulan puasa. Selain makanan, produk yang menjadi andalan adalah baju koko atau lebih dikenal sebagai baju muslim. Mereka sedang memikirkan tentang taktik dan strategi yang akan mereka gunakan supaya permintaan baju dapat meningkat dengan pesat. Para pengusaha ini ingin jualan mereka laku sebab bulan puasa di tahun 2017 ini berada di pertengahan tahun. Pasti angka inflasi akan meningkat dengan pesat. Belum lagi di bulan-bulan tersebut kebutuhan akan sekolah dan pendidikan juga meminta para orang tua untuk merogoh kocek lebih dalam. Maka dari itu perlu cara yang lebih menarik dan soft supaya bisa membuat konsumen membeli dan memakai produk busana muslim.

Promosi Baju Koko 2

Para pengusaha ini sudah memikirkan berbagai macam program supaya masyarakat nantinya mengetahui produk mereka. Setelah berkonsultasi dengan pebisnis sekelas Chandra Ekajaya mereka kemudian mendapatkan inspirasi untuk membuat pameran busana muslim. Jadi bukan hanya baju koko saja, tetapi baju-baju muslim untuk perempuan pun mempunyai kesempatan yang sama untuk lebih dikenal oleh masyarakat. Para pedagang kota Wonosobo ini pun akhirnya bekerja sama untuk membuat pagelaran busana yang menampilkan model-model terkenal. Banyak model terkenal seperti Citra, Fury, Sagita, dan sebagainya diajak turut serta untuk memeriahkan acara ini. Tidak kalah ramai, para pedagang pun diusulkan untuk bekerja sama dengan pemerintah supaya event yang diselenggarakannya lebih ramai dikunjungi oleh masyarakat. Pengusaha Chandra Ekajaya juga mengusulkan bahwa kegiatan ini justru ditampilkan di ruang publik. Sehingga seluruh elemen masyarakat bisa dijangkau. Mulai dari masyarakat kelas bawah, menengah, hingga kelas atas. Jadi promosi ini pun juga tidak akan merugikan, karena seluruh masyarakat inilah yang menjadi sasaran dari promosi. Jika mereka menonton maka bisa dipastikan promosi ini berhasil.

Chandra Ekajaya: Tukang Sapu Jadi Pengusaha

Chandra Ekajaya Tukang Sapu Jadi Pengusaha 2

Bagi Chandra Ekajaya, tidak ada yang tidak mungkin. Berawal dari menjadi seorang tukang sapu jalanan yang harus berjibaku dengan angin dan panas matahari, kini ia menjadi seorang pengusaha yang sangat sukses. Saat masih menjadi tukang sapu, dirinya sudah mempunyai cita-cita dan impian untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses. Untuk membayangkannya saja memang sangat sulit, karena saat itu ia harus membagi pendapatannya untuk menafkahi keluarganya. Kejadiannya bermula di tahun 1993, Chandra Ekajaya dengan bekal ijazah Sekolah Menengah Pertama dan tidak mempunyai keahlian serta keterampilan tertentu memberanikan diri merantau ke Ibukota Jakarta. Pria kelahiran Malang, Jawa Timur ini menjalani pekerjaan apapun selama itu halal. Dari tukang sapu, kuli bangunan, hingga pembantu rumah tangga. Setelah ia ia mendapatkan pekerjaan tetap di sebuah perusahaan swasta sebagai tukang sapu. Karena melihat ketekukan dan kesungguhannya, maka ia diangkat menjadi office boy. Tak lama berselang ia pun diangkat menjadi tenaga pasar.

Chandra Ekajaya Tukang Sapu Jadi Pengusaha

Setelah menjabat sebagai tenaga pasar, kemudian Chandra Ekajaya diberikan tanggungjawab untuk mengurus permasalahn gudang. Selama beberapa waktu ia merasa nyaman dengan pekerjaannya. Tetapi karena kebutuhan anak-anaknya semakin banyak, maka ia pun mencari penghasilan tambahan dengan berjualan aksesoris di stadion Gelora Bung Karno, mulai dari kalung, ikat rambut, gelang, dan sebagainya. Setelah berjalan berbarengan, ia kemudian memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Ia berpikir bahwa penghasilan berwirausaha lebih besar daripada ikut dengan orang. Semenjak itu ia membeli kios sederhana. Bisnis aksesorisnya berkembang dengan pesat. Karena sukses akhirnya ia membeli sebuah rumah di daerah yang masih sepi. Ia pun beralih menjadi seorang pengusaha sembako. Sebab bagi pengusaha Chandra Ekajaya, bisnis sembako lebih menguntungkan. Bahkan karena ketekunan dan kegigihannya, ia berhasil membuat produk beras sendiri. Beras yang diproduksinya menghasilkan nasi yang pulen, putih, dan bersih. Rasanya pun sangat gurih, dan tidak terlalu manis. Kini beras produknya sudah didistribusikan ke berbagai pedagang di seluruh wilayah Indonesia. Sampai saat ini, bisnis berasnya masih berjalan dan terus berkembang dengan pesat.

Chandra Ekajaya Kaji Perpindahan Ibukota

Chandra Ekajaya Kaji Perpindahan Ibukota

Pengusaha Chandra Ekajaya selaku pelaku usaha masih mengkaji rencana pemerintah yang akan melakukan pemindahan Ibu Kota Jakarta ke Palangkaraya, Kalimantan. Apalagi, pemindahan Ibu Kota ke luar Jawa butuh anggaran besar dan kesiapan infrastruktur. Selain dirinya, ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan bahwa pemerintah harus mempertimbangkan dengan matang rencana pemindahan ibu kota ke luar Jawa. Apalagi, pemindahan ibu kota tidak bisa dilakukan dengan mudah. Menurut Hariyadi, butuh kesiapan yang matang untuk memindahkan ibu kota. Rencana tersebut juga bakal menguras kantong negara untuk membangun infrastruktur pendukung ibu kota. Hal ini perlu dipikirkan lagi, karena biayanya terlalu mahal, tidak efektif memindahkan ke sana karena sudah terlanjur semua infrastruktur pendukung ada di sini. Menurut Hariyadi, pemindahan Ibu kota belum tepat terlaksana dalam waktu dekat. Masalahnya, implementasi tersebut harus didukung penumbuhan ekonomi yang tinggi. Menurutnya, selama ekonomi Indonesia belum terlalu bagus, beratlah untuk pindah karena pertumbuhan ekonomi paling menentukan.

Chandra Ekajaya Kaji Perpindahan Ibukota 2

Berbeda dengan Hariyadi, pengusaha Chandra Ekajaya mengatakan bahwa tidak menutup kemungkinan jika Indonesia dapat memindahkan pusat pemerintahan dari Jakarta ke Palangkaraya dalam jangka panjang. Namun, kata dia, semuanya ada hitungan. Idenya memang bagus, jadi pasti persiapan dan perencanaannya sudah matang. Hariyadi mengakui, pemisahan pusat pemerintahan dan ekonomi bukan hal yang aneh. Bahkan di beberapa negara sudah menerapkannya. Misalnya, Amerika Serikat (AS) menetapkan pusat perekonomian di kota New York, sedangkan kota pemerintahan ada di Washington DC. Sementara Myanmar menempatkan Naypyidaw sebagai ibu kota dan Yangon sebagai pusat ekonomi. Maka sangat mungkin kalau suatu saat Indonesia sudah jadi negara maju bisa memindahkan ibukotanya. Tapi pemindahan ibu kota tidak dalam waktu dekat. Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Sarman Simanjorang menilai bahwa pemindahan ibu kota tidak akan berdampak signifikan bagi kegiatan ekonomi dan bisnis di Jakarta. Sebab, selama ini Jakarta sudah dikenal sebagai pusat dari kegiatan bisnis dan jasa di Indonesia. Maka dari itu Chandra Ekajaya memberikan apresiasi dan dukungan yang positif kepada pemerintah Indonesia.