Niat Gigih Pengusaha Muda Es Pisang Ijo Ahmad Fauzi Pemuda Asli Malang

Sukses merupakan pilihan hidup bagi orang yang mau berusaha. Kalimat itu yang membawa Ahmad Fauzi, pria berumur 27 tahun yang sukses menjalankan beberapa bisnis sekaligus. la membuka bengkel jok, bengkel knalpot, menjual es pisang ijo. Kerja keras dan terus menciptakan inovasi dalam berbisnis membuat seorang anak daerah dari Malang bernama Ahmad Fauzi sukses menaklukkan persaingan bisnis yang sangat ketat di Malang. Saat ini,  ia telah memiliki bengkel jok mobil yang sudah dikenal luas kualitas dan inovasinya. Namanya Safety Seat (SS) di Malang, Jawa Timur.

Dalam sebulan, Ahmad Fauzi mengaku bisa mengantongi omzet dari pesanan jok mobil antara Rp 200 juta hingga Rp 300 juta. Ia sering mengikuti pameran-pameran mobil dengan memamerkan kreasi jok mobil nyeleneh. “Saya pernah membungkus satu badan luar mobil Inova baru dengan jok kulit buatan sendiri,” kenangnya. Di samping itu, Ahmad Fauzi memiliki bengkel knalpot dan AC yang bersebelahan dengan lokasi bengkel SS. Tidak hanya itu, sejak dua tahun silam, ia menjajal peruntungan dengan menjual es pisang ijo yang kala itu menjadi tren. Ia menamakan es pisang ijonya dengan merek Es Ger. Dari enam gerai miliknya, Ahmad Fauzi mengaku bisa menjual hingga 4.000 potong pisang goreng per gerai setiap akhir pekan. Pada hari biasa, rata-rata penjualannya 2.000 pisang.

Untuk bisa menghemat ongkos produksi es pisang ijonya, Ahmad Fauzi mencoba menciptakan alat pembuat es pisang ijo otomatis yang membuat proses pembuatannya lebih cepat. Alat bikinannya ini memiliki mekanisme yang sederhana sehingga tidak memerlukan listrik yang besar. “Dengan menggunakan alat pembuat es pisang ijo ini, kami bisa mengefisiensikan waktu dan mengurangi tenaga yang tidak maksimal,” ujarnya.

Pencapaiannya itu tidak begitu saja dia dapatkan dalam sekejap mata. Ia bahkan tidak menyangka bisa sesukses sekarang. “Semua ini anugerah dan kehendak Tuhan sehingga saya bisa sesukses seperti saat ini,” ujarnya merendah. Padahal, pada tahun 2000-an, Ahmad Fauzi belum menjadi apa-apa. Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan kuliahnya di Malang lantaran harus segera menghasilkan uang agar bisa melanjutkan hidup secara mandiri. la sempat menjadi pemulung di daerahnya,  sementara belum memiliki pekerjaan tetap. “Saya sering tidur di emperan-emperan toko karena tidak memiliki tempat tinggal tetap,” kenangnya.

Es Pisang Ijo Ahmad Fauzi

Kala itu, untuk mencari pekerjaan lebih layak, selain menjadi pemulung, Ahmad Fauzi juga nyambi menjadi tenaga penjual (salesman) alat-alat rumah tangga. “Saya menjalani pekerjaan tersebut sebaik-baiknya walaupun sebagai tukang jualan alat rumah tangga dari rumah ke rumah sering mendapat penolakan,” kenangnya. Melakoni profesi sebagai tenaga penjual alias salesman alat-alat rumah tangga, Ahmad Fauzi sempat menjadi supervisor. la mulai menabung hasil jerih payahnya. Malang tak bisa ditolak, perusahaan tempat ia bekerja bangkrut. Ahmad Fauzi harus mencari tempat kerja lain agar bisa bertahan hidup.

Tuhan memberi jalan. Dari koneksi sang kakak, Ahmad Fauzi mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan jasa pembebasan tanah. “Saya waktu itu sempat membebaskan tanah di Bali dan Lombok,” ujarnya. Perlahan tapi pasti, tabungan Ahmad Fauzi mulai terkumpul. Tabungan ini kemudian ia jadikan modal membuka bengkel knalpot dan mesin penyejuk udara alias air conditioner (AC). “Waktu itu, abang Saya juga sudah lebih dulu membuka bengkel yang sama, tidak jauh dari bengkel saya. Lalu, kami patungan mendirikan bengkel, saya ditugasi untuk mengelolanya,” ujar Ahmad Fauzi.

Awalnya bisnis ini tak gampang. Ahmad Fauzi sempat putus asa, sebab ternyata peminat bengkelnya sangat sedikit. Sepi dan terus merugi. Saking frustrasi, sempat terbersit menjual tanah tempat bengkelnya berdiri. Untung langkah ini urung lantaran penawaran harganya sangat rendah. “Mungkin sudah takdir saya tidak boleh menjual bengkel itu,” ujar Ahmad Fauzi. Tawaran lain datang. Tak seberapa lama, ada seseorang yang ingin bekerjasama membuka usaha jok mobil. Ahmad Fauzi diminta menyediakan tempat dan mencari pesanan, sang rekan mengerjakan pesanan jok mobil. Tapi, lagi-lagi, rencana ini tidak berjalan lancar. Sebab, mitranya selalu mangkir dari tenggat penyelesaian pesanan.

Ahmad Fauzi lantas memutuskan kerjasama. Tapi, satu dari tiga pegawainya menyarankan terus menjalankan bisnis jok ini. Awalnya, ia sempat ragu, sebab ia tidak mengerti sama sekali bisnis jok mobil dan otomotif. Untunglah, sang pegawai yang sudah piawai mau membantu. Ahmad Fauzi mencoba menginvestasikan uangnya dengan membeli bahan-bahan jok. la memberi nama usahanya dengan sebutan SS (Safety Seat) pada tahun 2003. Tapi, usahanya tetap saja sepi. Ahmad Fauzi belum menyerah. la lalu berusaha mengamati dan mempelajari bagaimana menjalankan usaha jok mobil di tempat lain yang lebih ramai peminat. Selain itu, ia rajin mempelajari teknik pemasangan jok dari media massa. Berbekal ilmu yang didapat, Ahmad Fauzi lalu menerapkannya. la memasang strategi lain yaitu beriklan dengan janji kualitas bagus dan harga miring.

Ternyata, dengan memberi diskon dan gebrakan saat membuka bengkel jok, SS mulai dikenal orang dan lama kelamaan banyak orang yang datang mengganti jok. “Saya sempat banting harga jok mobil sedan menjadi Rp 1 juta. Padahal, di bengkel lain, saat itu harganya Rp 1,6 juta,” kenang Ahmad Fauzi. Tidak hanya itu, Ahmad Fauzi juga membuat terobosan dalam berpromosi, yaitu dengan membungkus body mobil dengan kain jok. Setelah itu, ia menambah bola besar dari kulit jok di badan mobil. Tuiuannya, mencuri perhatian masyarakat terhadap merek SS. Hasilnya, masyarakat benar-benar tertarik dan memutuskan mengganti jok di SS.

Namun, kesuksesan bisnis bengkel jok SS tidak lantas membuat Ahmad Fauzi berpuas diri. Pada tahun 2005, bisnis es pisang ijo tiba-tiba populer di Malang. Jiwa bisnis Ahmad Fauzi mendorongnya menjajal peruntungan di bisnis ini juga. Pada awal 2006, Wildan mulai membuat es pisang ijo premium dengan merek Es Ger. Kebetulan, ia pernah berjualan pisang goreng sejenis itu di kampusnya, meskipun mandek dan gagal. Nah, agar tidak gagal lagi, sebelum membuat Es Ger, Ahmad Fauzi sempat mengantre membeli es pisang ijo yang sudah lebih dulu populer. “Tapi, saya khawatir usaha ini akan cepat mati. Sebab, mereka sangat terbuka soal resepnya sehingga sangat mudah ditiru orang,” ujar Ahmad Fauzi.

Faktanya, banyak sekali es pisang ijo sejenis bermunculan. Makanya, Ahmad Fauzi akhirnya membuat resep rahasia dengan pemilihan pisang dari Malang. “Sampai sekarang, karyawan saya tidak pernah tahu resep pembuatan es pisang ijo saya tersebut,” kata Ahmad Fauzi. Ahmad Fauzi  mengaku, kegigihannya dalam menjalankan bisnisnya lahir dari perjalanan hidup sejak kecil. Waktu itu, Ahmad Fauzi harus membantu perekonomian keluarga dengan berdagang teh kotak dan tisu dari bus ke bus saat masih bersekolah di Lampung. Bahkan, ia sempat berjualan bakwan dan es. “Dari sana, saya tahu bahwa manusia harus berusaha jika ingin berhasil,” ujamya.

Saat ini, Ahmad Fauzi bisa membawahi ratusan pekerja di bengkel maupun gerai Es Ger. Kedepan, ia bercita-cita menciptakan makanan murah meriah tapi memiliki keunikan yang bisa menjadi tren di Malang. “Masih saya pikirkan jenis makanan apa. Yang jelas, saya akan menjaga bisnis saya terus berjalan,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *